Postingan

SEJARAH KOTA PAYAKUMBUH

KETIKA Belanda menginjakkan kaki di ranah Payakumbuh, dengan membentuk Residensi, Afdeling, Onder Afdeling, Kelarasan, dan Nagari, sebagai bentuk pemerintahan. Maka, di Payakumbuh yang merupakan bagian dari Afdeling Luhak Limopuluah, terdapat 13 Kelarasan dengan 13 laras alias “Angku Lareh”. Lantas, dimana 13 Lareh itu? Dan siapa saja yang pernah menjadi Angku Lareh-nya? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, adalah pantas bila kita menyimak kembali tulisan Rusli Amran dalam buku  Plakat Panjang  yang terkenal itu. Menurut Rusli, Lareh dipimpin oleh seorang Tuanku Lareh (Angku Lareh). Jabatan ini merupakan jabatan tertinggi para pribumi (satu-satu ada juga kaum pribumi jadi regent, tapi sedikit jumlahnya.) Tugas Tuanku Lareh adalah menjalankan perintah dari atas. Bertanggangung jawab atas keamanan, tanaman paksa kopi, mengerjakan sawah, menjamin keadaan jalan-jalan maupun jembatan di larasnya. Kecuali itu, Tuanku Lareh menurut Rusli Amran, harus mengetahui keadaan di daerah...
Gambar
Legenda Bukit Posuak Begitu memasuki Jorong Kotogodang Maek, saya langsung dapat melihat sebuah bukit membentang di ujung timur laut sana. Uniknya, pada bagian atas bukit itu terdapat bolongan berbentuk pola seperempat lingkaran seperti habis ditusuk oleh sesuatu, sehingga dari celah tersebut tampak secuil warna biru langit di baliknya. Itulah Bukit Posuak, landmark Nagari Maek. Dalam bahasa Minang, kata posuak membang berarti bolong alias tembus. Di beberapa tempat di nagari ini, pemandangan Sungai Batang Maek yang mengalir tenang, atau hamparan sawah-sawah hijau berlatarkan bukit ini sungguh menyejukkan mata. Celah Bukit Posuak dapat dicapai dalam waktu satu setengah jam dari Jorong Ronah, setelah menempuh rimba-rimba. Sesampainya disana, pengunjung dapat menyaksikan keindahan panorama Nagari Maek di sebelah barat dan Nagari Gunuang Malintang di sisi timur. Menurut penuturan penduduk setempat, Barmawi (78 tahun), keunikan Bukit Posuak ini punya nilai daya tarik ...